Rabu, 02 Mei 2012

Sepi

menjerang sebuah monolog usang
yang selalu ada tiap mentari pudar
tentang sebuah hari yang terpahat dari bingar sepi
bagaikan asap rokok murahan
yang ringan dan tak teraba
namun berbisa

tak jengah hati
berbincang sendiri
sebab bagimu ini mungkin tak berarti
dan dunia bisa jadi tak mengerti
bahwa sepi selalu menempati lorong tergelap sanubari

Sabtu, 28 April 2012

Secarik Sajak untuk Sang Pemimpi



Tidakkah kau jemu kawan?
Mencipta ilusi kosong yang menipu
dari kenyataan hidup yang jadi terasa getir
Bukankah kita hanya butuh sebuah sketsa,
bukan lukisan buram masa depan yang kau ukir dengan lamunan

Bahkan kau pun tahu hidup bukan tercipta dari semata mimpi
yang kau rangkai dalam diam
tiap kali kau lihat bayangan surga di tangan orang lain

Tak lelahkah kau menangisi bayang semu
yang terbuat dari kenangan dan cita-cita yang tak kunjung usai
Sebab hidup seringkali menjadi lebih pahit
bila kita tak pernah sejenak singgah pada kenyataan

Kita ini bukanlah pepohonan yang hidup dari jejak perjalanan musim
Manusia berakal mampu menyadari di bumi mana ia menapak
dan membangun kota-kota di atasnya
dari peluh, air mata, bahkan darah
Sebab kita percaya, dari sanalah kehidupan bermula

Tersenyumlah kawan,
dan bangunlah sayap bagi mimpi-mimpimu



Malang, 24 Januari 2012

Selasa, 10 April 2012

Untitled

Terkungkung senyap
dalam sejuta makna yang mungkin lesap
Birama sepiku adalah sebait doa yang kuulang-ulang 
dalam kenang yang bernapas di buku sejarah hari-hari lalu

Aku tahu kau ada
seperti dahulu
ketika kebersamaan kita tak selalu berarti
(meski kini kurindukan sepenuh hati)
Namun jarak selalu berhasil membangun tembok raksasan di muka pintu hati kita
 
Biar waktu yang menghapus segala luka
yang dahulu singgah di hati kita
biar  juga ia abadikan suka
yang pernah tumbuh di hari-hari kita
dalam sejarah yang tak fana
dan memori yang takkan lekang dari kepala

Kini,
terkungking sepi tak sama dengan sendiri
karena kenangan tentangmu hapuskan beku hati 





Sabtu, 17 September 2011

Untuk Temanku

Teman, masihkah kau ingat saat kita dulu bergembira, menjalani hari-hari dengan riang sembari menatap hari depan yang tak pernah tampak kusam berjelaga. Bercanda dan tertawa sembari menggantung mimpi-mimpi di kanopi cakrawala. Saban hari belajar tak kenal waktu untuk menjemput impian. Bersama-sama. Teman, Tuhan memang selalu punya rencana rahasia yang ia sembunyikan dari kita ketika masih kanak-kanak dahulu. Rencana yang harus kita hadapi ketika masanya tiba kita harus berpisah ruang dan waktu. Ketika jalan hidup yang kita tempuh jadi bercabang, menempatkan diri kita masing-masing di sisi-sisi yang berlainan. Dan kita harus cukup kuat dan dewasa untuk berpisah. Demi impian dan harapan yang pernah kita semai di masa muda. Teman, berbincang sejenak denganmu seakan menjadi oase di tengan kekeringan. Membasahi kerongkongan yang dahaga akan kasih sayang dan gairah masa muda. Darah dan adrenalin seakan terpompa, memicu semangat dan kekuatan baru yang menyala-nyala. Membuatku lebih bergairah menjalani hidup serta memandang kehidupan ini dengan lebih optimis. Temanku, semoga perjumpaan kita berarti sama dalam bagimu. Teman, di peraduan hari ini aku berdoa. Semoga kebaikan, kesahajaan, dan kebahagiaan terus meliputi dirimu. Semoga Tuhan senantiasa meliputimu dengan bimbingannya dalam menjalani perjuanganmu yang masih panjang. Perjuangan mungkin akan lebih pahit dan menyakitkan. Namun, yakinlah bahwa tak ada onak yang tak akan pupus oleh usaha dan doa kepada sang pencipta. Jalani hari-harimu dengan harapan dan rasa syukur yang tak habis-habis. Hingga bila tiba saatnya kelak kita berjumpa lagi, kan kita layangkan berjuta mimpi ke haribaan Tuhan yang tak putus-putusnya memberi.

Jumat, 16 September 2011

Kamis, 14 Juli 2011

Bukan Soal Cinta

Dalam hati berbicara
Bukan soal cinta
Serapah bagi iblis buruk rupa

Itu hatiku
Akan kuambil dengan segala cara
Dalam soneta
tertumpah jiwa
namun raga tak kuasa

MENGAPA??