tiap pagi
didekap sekecup cinta
dalam cangkir-cangkir teh yang tak henti beruap
mungkin mereka menghangat karena senyummu
begitu kata hatiku
dan disinilah kutitipkan memori indah
yang terekam sejak ku masih bocah dalam buaian
dan akan selalu menjadi tempat pulang
ketika kehidupan mulai letih akan pencarian
semoga
Tampilkan postingan dengan label Diary. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Diary. Tampilkan semua postingan
Kamis, 17 April 2014
Kamis, 23 Januari 2014
Renungan Hari Ujian
Di saat seluruh usaha keras kita diuji kebenarannya
Itu disebut ujian
Ketika seluruh pemikiran yang kita curahkan diuji
keakurantannya
Itu disebut ujian
Ketika beberapa penguji-penguji “super” mengoreksi tiap tetesan keringat kita
Itu disebut ujian
Selama darah masih mengalir dan tugas kita di dunia belum
berakhir
Ujian pasti datang bertubi-tubi
Untuk meluruskan langkah kita
Untuk memurnikan niat kita
Untuk menguji keikhlasan kita
Untuk menempa kekuatan kita
Namun, ternyata Tuhanlah penguji paling spesial
Di penjuru bumi dan langit
Dulu, saat ini, esok
Di tiap jengkal langkah kehidupan kita
Dan bahkan di tiap detik kehidupan di dunia ini
Suatu ujian yang mungkin perlu waktu seumur hidup kita untuk berhasil melewatinya
Dan satu yang perlu diingat,
“SEBESAR-BESARNYA DAN SESULIT-SULITNYA UJIAN, BERHASIL
ATAUPUN GAGAL, KITA SELALU PUNYA KESEMPATAN UNTUK MEMPERBAIKI DIRI (a.k.a ujian
tahap selanjutnya)” :-D
Sabtu, 14 September 2013
Tentang Berbahagia
Selalu ada alasan bagi kita untuk berbahagia. Ditengah canda
tawa maupun duka yang mendera. Di bawah pelangi sehabis rinai maupun di tengah
amuk badai. Dalam hari-hari penuh harapan maupun dalam hari-hari sarat beban.
Sedih itu boleh. Duka itu biasa. Bahkan kadang kala gerimis
mengalir di pelupuk mata, menandai hati yang remuk karena realita (ehem.. J).
Itu semua boleh karena kita adalah manusia yang memiliki perasaan. Duka dan
kesedihan karena aral yang merintangi jalan kehidupan itu kodrati. Karena
sesungguhnya kita adalah manusia yang penuh kelemahan.
Namun, bolehlah kita menjadi hamba Allah yang lebih baik
dengan banyak bersyukur, dan sebagai bonusnya kita akan menjadi lebih bahagia. Syukur
itu adalah ketika kita mampu menikmati kebahagiaan-kebahagiaan yang diberikan Allah,
meski kebaikan itu teramat kecil. Ketika kita bangun di pagi hari dengan segar
setelah terlelap semalaman, ketika kita masih bisa hidup dan menghirup udara
yang bersih, dan ketika kita bisa menikmati sepiring makanan setiap pagi,
dimana banyak saudara-saudara kita di negeri-negeri yang jauh menderita
kekeringan dan kelaparan. Ingatlah, ketika hidup penuh kekurangan, masih-ada
orang-orang di luar sana yang lebih menderita dari kita, dan mereka pun
berusaha berbahagia. Maka, syukur juga adalah ketika kita mampu merasakan
kebahagiaan ketika sedang berada dalam situasi yang tidak menyenangkan bagi
kita.
Terkadang kita merasa diri kita penuh kelemahan, tidak
sehebat, sepintar, secantik, dan se se yang lain dibanding kawan-kawan kita.
Ingatlah, bahwa Allah pasti menciptakan kita dengan berbagai karakteristik
tersebut dengan alasan yang spesial. Misalnya, mungkin kita tidak pintar namun
kita memiliki perasaan yang peka dan pemikiran yang sederhana sehingga bisa
menjadi seorang kawan yang menyenangkan. Betapa bahagianya mendapati diri kita
memiliki banyak sahabat kemana pun kita pergi, dan betapa bermanfaatnya diri
kita ketika bisa menjadi tempat berbagi bagi orang-orang tersebut. Mungkin kita
tidak cantik molek seperti seorang model, namun karena itulah kita terhindar
dari tatapan jahat orang-orang yang mengikuti hawa nafsu. Mungkin kita tidak
memiliki apa-apa, harta maupun kelebihan-kelebihan lainnya, namun dengan begitu
kita menjadi seorang yang rendah hati dan lebih kreatif dibanding orang lain.
Bagitu pula bila
kelemahan itu adalah kebiasaan atau sifat buruk yang belum dapat kita ubah.
Yang satu ini memang kerap membuat orang di sekeliling kita sebal dan kita pun
dianugrahi cap-cap yang kurang menyenangkan seperti tukang tidur, si pelit, si
malas, dan label-label lain yang mengganggu. Namun tahukah anda? Ada sebuah
hadist rasul yang mengatakan bahwa bila hari ini diri kita lebih baik dari hari
kemarin, berarti kita termasuk orang-orang yang beruntung. Bila hari ini kita
sama seperti kemarin, berarti kita adalah seorang yang merugi. Bila hari ini
lebih buruk dari hari kemarin, maka kita termasuk orang-orang yang celaka. Nah,
berarti selama kita masih memiliki kekurangan dan kesalahan maka masih terbuka
kesempatan bagi kita untuk memperbaiki diri, dan itu membuat kita termasuk
dalam kategori orang-orang yang beruntung. Bahkan ada seorang ulama yang
berpendapat bahwa ibadah yang lebih utama bagi seorang yang memiliki kekurangan
(dalam buku yang saya baca dicontohkan dengan orang yang kikir dalam
bersedekah) adalah memperbaiki kekurangannya tersebut, bukan shalat malam,
puasa sunnah, maupun ibadah-ibadah sunnah lainnya Pendapat ini bukan bermaksud
menggampangkan nilai ibadah-ibadah sunnah, melainkan ingin menegaskan bahwa
memperbaiki diri adalah termasuk salah satu ibadah yang utama. Maka,
beruntunglah bagi kita yang memiliki kekurangan dan kelemahan karena berarti
kita memiliki banyak kesempatan untuk beribadah.
Jadi, tidak ada alasan bagi kita untuk sedih berkepanjangan
sehingga melupakan karunia-karunia yang Allah berikan. Rasakan dan hayati
berbagai rahmat Allah bagi kita mulai dari yang paling kecil, kemudian ucapkan
hamdalah. Karena kata Rasulullah, satu ucapan hamdalah akan dibalas dengan satu
pahala, dan bila kita mengucapkannya tiga kali sebagai wujud syukur atas
karunia Allah maka satu dosa kita akan diampuni. Maka mulailah melatih kepekaan
untuk merasakan daftar panjang nikmat Allah dan ucapkan sebanyak-banyaknya
syukur kepadaNya. Mudah-mudahan kita termasuk hamba-hambanya yang diampuni. J
Jumat, 26 Juli 2013
Saya dan Rasa Bangga
Terdapat
satu penyakit hati yang bisa menjangkiti siapa saja, baik orang miskin maupun
kaya, orang pandai maupun bodoh, baik orang yang sedang diatas angin maupun
yang diujung tanduk, ialah rasa bangga. Rasa bangga sangat berbahaya, karena kerap
membuat kita rabun dan kurang waspada. Rabun sehingga terlalu tinggi memandang
diri sendiri dan kurang waspada sehingga tanpa sadar kita sedang memimpin diri
sendiri ke ambang kehancuran.
Dan
sayangnya, itulah yang saya alami. Selama ini saya sering merasa sering lebih
baik dari orang lain. Dalam banyak hal, misalnya tanggung jawab, antusiasme
dalam menyelesaikan tugas-tugas, semangat dalam belajar dan lain-lain yang sebenarnya mungkin menurut
anda tidak pantas membuat seseorang menjadi bangga (saking remehnya). Namun itulah
yang sempat saya alami. Rasa bangga adalah ketika kita merasa telah mencapai
sesuatu, dan bisa menjelma kesombongan ketika kita menganggap remeh orang lain
yang menurut pandangan kita tidak sama dengan kita. Pun saya, sempat menganggap
diri saya lebih karena memiliki hal-hal di atas.
Namun
alhamdulillah, mungkin karena lagi puasa (hehehe… ) atau karena menurut Allah
inilah saat yang tepat untuk meyadarkan saya supaya tidak kebablasan,
akhir-akhir ini Allah sedikit mengingatkan saya lewat suatu pengalaman kecil.
Inilah yang ingin saya bagi dengan teman-teman semua.
Seperti
biasa, meskipun bukan disengaja, liburan akhir semester genap di kampus saya
berjalan bertepatan dengan Bulan Ramadhan. Dan seperti biasa juga, saya sempat
bingung bagaimana saya akan menjalani liburan panjang ini. Bayangkan betapa
jenuhnya bila kita harus menjalani liburan panjang selama hampir 2 bulan tanpa
kegiatan. Karenanya, saya memutuskan melamar ke sebuah biro jasa pembuatan web
sebagai salah satu karyawan freelance
untuk mengisi liburan ini.
Sayangnya,
ternyata saya sedikit salah informasi. Lowongan pekerjaan di biro tersebut
ternyata ditujukan untuk yang berminat menjadi karyawan fulltime sebagai content
writer. Pada awalnya pemilik biro yang saya temui menunjukkan tanda-tanda
kurang berkenan menerima saya karena di biro tersebut karyawan freelance sudah banyak. Namun karena
sudah bertekad, saya tetap bersikukuh untuk mendapatkan pekerjaan tersebut.
Akhirnya, mungkin karena melihat kesungguhan saya pemilik biro memberi saya kesempatan.
Tapi saya diharuskan mengirim beberapa contoh tulisan hari itu juga.
Saya
bersedia karena menurut saya pekerjaan itu tidaklah sulit. Cukup menulis 5
hingga 8 artikel tentang tema tertentu dan harus di-approve semuanya oleh editor di biro tersebut. Disamping sedang
liburan sehingga banyak waktu untuk mengerjakannya, selama ini saya memang suka
menulis dan pernah bekerja sebagai karyawan outsourcing
di sebuah situs sebagai penulis profil tokoh. Jadi menurut saya saat itu saya
pasti bisa, lah. Saya kan sempat punya pengalaman.
Namun,
saya baru ingat ketika sudah ada di rumah, bahwa pekerjaan tersebut tidak akan
bisa saya kerjakan setelah liburan ketika kuliah sudah aktif. Biro tersebut
meminta saya mengirim artikel yang saya buat setiap harinya maksimal pukul 5
sore. Sedangkan, pada hari biasa di pagi hingga siang hari saya harus kuliah.
Bisa jadi, pemilik biro sempat kurang berkenan menerima saya karena pekerjaan
tersebut sebenarnya lebih cocok dilakukan karyawan fulltime yang hanya mengerjakan artikel setiap hari dari pagi
hingga sore hari. Akhirnya, saya menghubungi pemilik biro untuk menyampaikan
pengunduran diri saya.
Saya
tersadar, bahwa apa-apa yang saya pelajari di sekolah selama ini belum cukup
untuk menghadapi dunia kerja. Karena, setelah saya pikir-pikir, meskipun
sebagai karyawan fulltime pun saya
mungkin tidak bisa memenuhi standar biro tersebut. Mungkin dari segi
keterampilan, misalnya keterampilan menulis dan berbahasa Inggris (karena biro
meminta saya mengambil sumber dari web luar negeri) saya masih memenuhi syarat.
Namun saya ini orangnya mudah stres dan paling tidak bisa bekerja bila
dikejar-kejar deadline, sedangkan pekerjaan tersebut deadlinenya tiap hari (dan
mungkin banyak pekerjaan seperti itu) sehingga hampir bisa dipastikan setiap
hari saya akan merasa stres. Sekolah biasanya mengajarkan keterampilan atau
hardskill, sedangkan softskill seperti kemampuan memotivasi diri, manajemen
stres, dan lain-lain harus kita pelajari sendiri.
Saya
juga jadi berpikir, teman-teman yang tidak setekun saya waktu sekolah mungkin
bisa lebih berhasil karena pada dasarnya mereka orangnya santai dan bisa enjoy
dalam menghadapi hidup yang penuh tekanan. Hardskill mungkin lebih mudah dicari
dan bahkan bisa dengan cepat kita pelajari waktu sudah bekerja karena saat itu
kita langsung praktek, tidak hanya belajar teori. Selama ini saya cukup pede
karena nilai-nilai saya di sekolah cukup baik, namun ternyata bukan itu yang
benar-benar saya perlukan untuk bisa bekerja dan menghadapi kenyataan hidup
selepas kuliah.
Satu
lagi, saya jadi sadar bahwa saya tidak harus bangga dengan diri saya karena
sebenarnya pencapaian saya selama sekolah adalah lebih karena karunia Allah,
karena kebetulan saya ada di tempat yang tepat. Sekolah cenderung mengajarkan
hal-hal bersifat akademik dan potensi akademik saya mungkin kebetulan cukup bagus. Sedangkan, banyak dari
teman-teman saya sebenarnya berpotensi di bidang seni misalnya, namun karena
sekolah kurang memfasilitasi mereka jadi kurang “menonjol”. Dan malangnya, ada
dari mereka menjadi rendah diri dan merasa tidak dapat mengikuti pelajaran di
sekolah sehingga menjadi kurang pede.
Alhamdulillah,
Allah menyadarkan saya di Bulan Ramadhan yang penuh berkah ini. Mudah-mudahan Ia
juga membantu saya memperbaiki diri dan menjauhkan saya dari sifat bangga dan
sombong.J
Rabu, 12 Desember 2012
My Regret
I think I was wrong in interpreting kindness.
I used to think that kindness is always about truth, religion, or law. I thought that someone who isn't good is only he or she that do something bad in the perspective of religion or law. But lately, I realize that the meaning of kindness is not only about them, and there is a problem if I think so. The way I thought about kindness is used to be too "shallow" and againts the other truth that human are social creatures. And the worst is the fact that maybe I have hurt someone because of that stupid thought :(
It's easier to find out other's fault than our's indeed. And it makes me feel so bad that I just realized about it, though I have knew it so long ago. Now, I just can learn to be more gentle deep in my heart so that I will appraise everything more wisely. Religion and law should make us be a better person but it doesn't mean that we are allowed to be another bad person because we judge others and make them hurt.
I wish God will forgive me my faults and so that them whom I've ever hurt, and I wish too to be a better person.
Rabu, 19 Januari 2011
Isi Hati
Setelah hingar bingar keremajaan kita
mungkin inilah saatnya jadi dewasa
Biar pun kau pergi
aku akan tetap teguh di sini
membangun kastil hatiku
dari batu-batu kekuatan dan kebijaksanaan
hingga ia kuat berdiri
menaungi langkahku dengan berani
Setelah waktu yang kita lalui bersama
(walaupun waktu-waktu terindah kerap disisipi hari-hari duka.
saat kita mulai egois dan bertengkar layaknya kanak-kanak)
perpisahan ini sungguh berat terasa
sayangnya ia tetap harus kita lalui
biar sempurna perjalanan ini
Sesungguhnya derai air mata
mengiringi perpisahan kita
(biarpun kututupi dengan barusaha menyibukkan diri)
Namun waktu yang terus berputar
seakan hanya mau tau bahwa kita sedang menjadi seorang yang tegar
dan semakin dewasa
Maafkan aku atas segala salah
yang dulu menyakitimu
Semoga hanya kenangan terindahlah yang tersisa
di memori untuk kita kenang nanti
mungkin inilah saatnya jadi dewasa
Biar pun kau pergi
aku akan tetap teguh di sini
membangun kastil hatiku
dari batu-batu kekuatan dan kebijaksanaan
hingga ia kuat berdiri
menaungi langkahku dengan berani
Setelah waktu yang kita lalui bersama
(walaupun waktu-waktu terindah kerap disisipi hari-hari duka.
saat kita mulai egois dan bertengkar layaknya kanak-kanak)
perpisahan ini sungguh berat terasa
sayangnya ia tetap harus kita lalui
biar sempurna perjalanan ini
Sesungguhnya derai air mata
mengiringi perpisahan kita
(biarpun kututupi dengan barusaha menyibukkan diri)
Namun waktu yang terus berputar
seakan hanya mau tau bahwa kita sedang menjadi seorang yang tegar
dan semakin dewasa
Maafkan aku atas segala salah
yang dulu menyakitimu
Semoga hanya kenangan terindahlah yang tersisa
di memori untuk kita kenang nanti
Langganan:
Postingan (Atom)